MUHIBBIN.NET

Mengabarkan dengan Cinta

Syekh Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthi
KISAH

Belajar Adab dari Ketaatan Syekh Ramadhan Al Buthi pada Orangtuanya

Muhibbin.online, -Meminta izin kepada ayah adalah hal yang lumrah bagi seorang anak, namun bagaimana jika hal itu dilakukan oleh Dekan Fakultas Syariah di Universitas Damaskus Syiria hanya untuk menghadiri undangan makan malam biasa.

Cerita ini ditulis oleh Dr. Ahmad Bassam dalam salah satu buku yang berjudul “Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi; Buhuts wa Maqalat Muhdah Ilaihi”.

Pada saat itu sedang ada pendirian perpustakaan Universitas al-Ladziqiyyah. Syekh Al-Buthi meski sudah menjadi Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, ia tetap membantu mengajar materi Alqur’an Al Karim di Universitas al-Ladziqiyyah setiap Rabu.

Pada Rabu malamnya, Rektor Universitas al-Ladziqiyyah mengundang para dosen untuk makan malam di rumahnya dalam rangka satu tahun berdirinya Universitas al-Ladziiyyah. Tiba-tiba Rektor berkunjung ke kantor Ahmad Bassam dan sekaligus mengundangnya bersama Syekh al-Buthi untuk menghadiri makan malam.

Dr. Ahmad Bassam langsung mengiakan dan bersedia untuk hadir, sementara Syekh al-Buthi dengan ucapan yang sangat halus meminta untuk terlebih dahulu meminta izin kepada orangtuanya, Syekh Mulla Ramadhan di Damaskus.

Melihat peristiwa ini, Dr. Ahmad Basam dan Rektor Universitas al-Ladziqiyyah merasa sangat heran. Dalam hati mereka bergumam, “Jika alasan meminta izin adalah hal lain atau masalah besar mungkin biasa saja”.

Namun yang menjadi tidak biasa, bagaimana seorang Dosen dan juga Dekan Fakultas yang sudah berumur empat puluh dan telah memiliki anak-anak yang sudah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, masih meminta izin untuk menghadiri makan malam dan memperpanjang kunjungannga di al-Ladziqiyyah.

Peristiwa ini sangat mengejutkan bagi mereka berdua, tidak hanya sampai di sini, sebab ketika Syekh al-Buthi menelpon ayahnya, tampak sekali betapa besarnya penghormatan Syekh al-Buthi kepada ayahnya.

Hal mengejutakan kembali terjadi, karena ternyata ayahnya tidak mengizinkan Syekh al-Buthi menghadiri undangan makan malam itu. Syekh al-Buthi tidak melakukan bantahan, tidak ada penolakan, tidak ada permintaan dan bahkan sekadar mengucapkan kalimat harapan atau upaya agar ayahnya mengubah keputusannya.

Begitulah ahlak seorang ulama besar kepada orang tuanya. Dalam hal kecil saja, beliau sangat mematuhi dan menghormati ayahnya.

Sumber: Belajar Dari Tiga Ulama Syam, Karya Mohammad Mufid, Lc.

Penulis: Anwar

 

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *