MUHIBBIN.NET

Mengabarkan dengan Cinta

ulama zaman dulu
KISAH

Cerita Abah Guru Sekumpul: Menengok Perjuangan Dakwah Ulama Tempo Doeloe

Oleh: Muhammad Bulkini *)

Menjadi pendakwah di zaman dulu, tidak semudah sekarang, khususnya pendakwah di sebagian wilayah Kalimantan Selatan. Selain medan dan alat komunikasi yang tidak memadai, pendakwah di zaman dulu mesti “sakti” kalau ingin diikuti. Hal ini tentu saja mengikuti situasi dan kondisi di mana Sang Pendakwah beraksi.

Tuan Guru H Abbas atau yang dikenal dengan Tunji (Tuan Haji) Abbas misalnya. Ketika diperintahkan para ulama di Martapura (Kerajaan Banjar)  untuk berdakwah ke daerah Hulu Sungai Selatan, tepatnya di daerah Wasah (sekarang Kecamatan Simpur), harus mengalami sambutan yang tidak dilakukan orang sekarang. Tentu saja bukan senyuman, apalagi tabuhan rebana dan syair ‘marhaban’.

Diceritakan Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari atau Abah Guru Sekumpul, ada seorang lelaki datang ke kediaman Tunji Abbas. Orang itu rupanya sudah mengetahui maksud kedatangan Tunji Abbas ke kampung mereka, yakni ingin berdakwah.

Karenanya, dia datang untuk menguji seberapa “sakti” Tunji Abbas hingga berani datang ke tempat mereka.

Lelaki itu mencabut sepohon bambu dan dibawa ke hadapan Tunji Abbas yang berada di beranda rumah barunya.

Sambil menanyakan kampung asal Tunji Abbas, orang itu membersihkan ranting, daun, bahkan memotong bambu hanya dengan tangannya. Dia memperlakukan tangan layaknya sebilah parang.

Melihat perilaku orang itu, Tunji Abbas mengetahui bahwa beliau sedang diuji. Maka, beliau pun kemudian memanggil khadam (pembantu) beliau yang bernama Durahman (Abdurrahman).

“Ambilkan tongkatku yang di bawah ranjang,” ujar Tunji Abbas.

Abdurrahman pun dengan tertatih-tatih membawa tongkat besi seukuran pergelangan orang dewasa ke hadapan Tunji Abbas. Setelah berada di hadapan Tunji Abbas, tongkat itu digunting beliau dengan dua jari.

“Nang kaya bubur gunting (bentuk potongan itu seperti bubur gunting, red),” ujar Abah Guru Sekumpul ketika menceritakan keramat Tunji Abbas di Majelis Ar Raudhah Sekumpul.

Setelah kejadian itu, baru orang-orang di sana mau menjadi murid Tunji Abbas.

Tunji Abbas sendiri adalah ulama keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari. Yakni, ayah beliau yang bernama Syekh Abdul Jalil merupakan anak dari Khalifah (Mufti merangkap qadhi) Syekh Syihabuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.

***

Cerita di atas menunjukkan betapa telitinya orang tua kita dulu. Mereka tak sembarangan mencari guru. Lilitan sorban dan imamah yang disandang di bahu, tak mungkin laku di masa itu. Sebab, mereka memiliki standar lebih dari sekadar memiliki ilmu, yakni kekeramatan. Mungkin mereka tahu, kekeramatan layaknya buah tangan dari sebuah pendakian (amal) berdasarkan jalan yang benar (ilmu) dan pembimbing yang handal (mursyid).

 

*) Penulis Buku Jejak Ulama Thoriqoh Sammaniyah dan Buku Abah Guru dalam Kenangan.

 

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *