MUHIBBIN.NET

Mengabarkan dengan Cinta

Maulana habib luthfi bin yahya bersama Syekh Abdul Malik bin Ilyas
KISAH

Didikan Cinta NKRI dari Waliyullah Syekh Abdul Malik bin Ilyas, Guru dari Habib Luthfi bin Yahya

muhibbin.online, – Maulana Habib Luthfi bin Yahya adalah sosok ulama dari kalangan habaib yang getol menggelorakan cinta pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ternyata, kecintaan terhadap negeri ini beliau dapatkan dari guru utamanya, Syekh Abdul Malik bin Ilyas.

Habib Luthfi menceritakan, suatu ketika beliau diajak jalan-jalan oleh Syekh Abdul Malik mengendarai mobil yang disopiri Sayuti. Mobil itu berjalan dari Purwokerto Banyumas. Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah Bantarbolang dan Randudongkal, tiba-tiba saja gurunya meminta sopir untuk berhenti.

“Pak Yuti, berhenti dulu,” kata Syekh Abdul Malik.

Sopir pun membawa mobil menepi. “Ke tempat yang adem saja, biar enak untuk gelaran,” kata Syekh Abdul Malik.

Saat itu, hari sudah pukul 09.45 WIB. Syekh Abdul Malik mengajak beristirahat sebentar di tepi jalan dengan menggelar tikar. Termos pun dikeluarkan.

Syekh Abdul Malik kemudian mengambil rokok kesukaannya, klembak menyan. Menariknya, ulama sepuh itu kerap melihat jam dari kantongnya sembari berkata, “Dilut maning (sebentar lagi).”

Baca juga: Tajamnya Pandangan Abuya Maliki, Mengetahui Waktu Kewafatan Seorang Wali

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (2), dari Penuturan Ulama Banjar

Habib Lutfi heran dengan apa yang dilakukan gurunya itu. Namun setelah pukul 09.50 WIB, kebingungan Habib mulai dapat pencerahan. Syekh Abdul Malik tiba-tiba mematikan rokok yang sebenarnya belum habis dipakai.

”Ayo Pak Yuti, Habib mriki (ke sini)!” ucap Syekh Abdul Malik.

Beliau kemudian membacakan hadroh al Fatihah untuk Nabi SAW dan sahabat hingga nama-nama pahlawan Indonesia disebut, seperti Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, Kiai Mojo, Jenderal Sudirman dan seterusnya.

Pada pukul 10.00 WIB, Syekh Abdul Malik berdiam sejenak dan kemudian memanjatkan doa “Allahummaghfirlahum warhamhum…”

“Mbah, wonten napa ta (ada apa)?” tanya Habib yang masih sedikit kebingungan.

“Anu, napa niki jam 10, niku napa namine, Pak Karno Pak Hatta rumiyin baca napa (pukul 10 dulu Pak Karno Pak Hatta dulu membaca apa)?” tanya Syekh Abdul Malik.

“Proklamasi, Mbah,” jawab Habib Luthfi.

“Ya niku lah, kita niku madep ngormati (ya itulah kita berhenti sejenak menghormati),” jawab Syekh Abdul Malik.

Begitulah para ulam sepuh dulu menghormati dan menanamkan kecintaan kepada NKRI ini, sambung Habib.

“Sampai begitu mereka, kita ini belum ada apa-apanya, makanya sampai sekarang saya etok-etoke meniru, setiap tanggal 17 Agustus kita baca Al Fatihah. Rasa mencintai dan memiliki. Tanamkan kepada anak-anak kita!” tegas Habib Luthfi.

Baca juga: Mengenang Syekh Umar Hamdan (1), Berkaca Padanya, Santri Mana yang Tak Malu

Baca juga: Belajar Adab pada Syaikhona Kholil (2), Tidak Buang Hajat di Tanah Suci

Semoga Habib Luthfi dipanjangkan umur, disehatkan badan, sehingga bisa terus membimbing generasi Islam di Indonesia menuju kebahagiaan di akhirat tanpa meninggalkan kedamaian di dunia.

Sumber: Fb mtdarulhasyimi

Editor: Muhammad Bulkini

 

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *