MUHIBBIN.NET

Mengabarkan dengan Cinta

Syekh Mutawwali Asy Sya'rawi bersama Sayyid Muhammad bin Alwi Al maliki
KISAH

Ketika Semua Ulama Bungkam, Pembawa Lentera Punya Jawaban

Pada sebuah Muktamar tingkat dunia yang diselenggarakan di Mesir sekitar tahun 90-an. Syekh Mutawwali Asy Sya’rawi menanyakan kemanakah perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam. Semua peserta Muktamar yang merupakan para ulama perwakilan dari berbagai negara itu tak ada yang mampu menjawab.

Karena pertanyaan tersebut menarik dan belum pernah dibahas dalam sejarah Islam sebelumnya, maka sang pimpinan Muktamar meminta waktu untuk mencari jawaban. Beliau berkata, esok akan menemukan jawabannya.

Sepulang dari Muktamar, sang pimpinan langsung masuk ke perpustakaan dan membuka banyak kitab untuk mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. Namun, tak ada satupun kalimat yang membahas pertanyaan tersebut. Karena kelelahan, akhirnya beliau tertidur.

Saat tidur itulah beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang sedang bersama seorang pembawa lentera. Kesempatan itu pun di manfaatkannya untuk meminta jawaban langsung kepada Rasulullah.

Rasulullah memberi isyarat agar beliau bertanya kepada pemegang lentera disampingnya. “Tanyalah kepada Shohibul Qindil (Lentera).”

Shohibul Qindil menjawab, “Air tersebut naik ke langit dan turun kembali ke bumi bersama hujan. Setiap tanah yang dijatuhi air tersebut, maka di kemudian hari akan didirikan sebuah masjid.”

Keesokan harinya, berdirilah sang pemimpin Muktamar untuk memberikan jawaban tentang perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah. Semua yang hadir terkagum-kagum. Syeikh Mutawwali yang mengajukan pertanyaan tersebut, bertanya lagi, “Dari mana engkau mengetahuinya?”

Sang pimpinan Muktamar menjawab, “Dari seseorang yang saat itu sedang bersama Rasulullah dalam mimpiku semalam.”

Syeikh Mutawwali bertanya lagi, “Apakah ia membawa Qindil?”

“Bagaimana engkau tahu?” tanya balik sang pimpinan.

“Karena akulah Shohibul Qindil tersebut,” jawab Syeikh Mutawwali.

Kisah ini amat masyhur di kalangan ulama, terlebih di Mesir. Sekalipun banyak saksi mata yang menyaksikan langsung peristiwa ini, namun ulama-ulama dari kelompok Wahabi yang kala itu hadir juga, sedikitpun tidak mempercayai kisah ini, kecuali Syeikh Umar Abdul Kafi.

Beliau mengatakan bahwa dirinya telah banyak melihat berbagai karamah dalam diri Syekh Mutawwali Asy-Sya’rawi, namun beliau enggan mengakuinya karena keyakinan yang dianutnya (faham Wahabi) menolak adanya karamah.

Tapi untuk kali ini, Allah telah menumbuhkan keyakinan dalam dadanya, sehingga beliau termasuk orang yang mempercayai kisah ini. Beliau kemudian keluar dari Wahabi dan masuk faham Ahlussunnah Wal Jama’ah.

 

Sumber: Duta Islam

Editor: Muhammad Bulkini

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *