MUHIBBIN.NET

Mengabarkan dengan Cinta

ilustrasi jejak kiai Abu Naim. banua.co
KISAH

Kiai Abu Naim, Ulama Misterius yang Kerap Mengirimkan Barang Bantuan

muhibbin.net,- Nama Kiai Abu Naim memang tidak begitu familiar. Beliau tidak dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren. Akan tetapi masyarakat Muslim di Wonosobo dan sekitarnya mengetahui karomah kiai misterius tersebut.

Kiai Abu Naim adalah putera Kiai Ilham Butuh Wonosobo. masyarakat mengenalnya sebagai seorang kiai yang memiliki ketinggian spiritual. Bahkan, tidak sedikit yang menganggapnya sebagai seorang waliyullah. Keluarganya dan masyarakat desa Butuh Kabupaten Wonosobo yakin bahwa beliau memiliki karomah.

Pada 1968, Kiai Abu Naim ikut mendirikan Pondok Pesantrem Miftahul Huda Siwatu bersama KH. Ghazali Syihab. Lokasi pendirian pondok pun atas saran beliau, yakni di jurang sebuah sungai yang penuh batu-batu. Konon, warga menemukan pusaka keris di bebatuan sungai itu. Hal itu menjadi cikal bakal nama dari desa tersebut, yakni  Siwatu.

Baca juga: Karomah Habib Husein Luar Batang, Korban Perampokan Bisa Pulang Tanpa Ongkos

Baca juga: Cara Abuya Maliki Mendidik Anak; Tidak Mengandalkan Nasab

Kiai Abu Naim dikenal sebagai kiai misterius. Beliau meninggalkan keluarganya pergi entah ke mana, seakan menghilang tanpa dapat diketahui rimbanya. Menariknya, pada beberapa kesempatan beliau datang “menjenguk” keluarganya.

Kiai Ahsin Wijaya al-Hafizh pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Qur’an Munggang Kalibeber Wonosobo menceritakan, Kiai Naim telah lama meninggalkan kampung halaman. Ke mana perginya, tidak ada yang tahu pasti. Pihak keluarganya pun sudah mengikhlaskan kepergian sang kiai, toh sang kiai sesekali pulang juga mengunjungi mereka.

Suatu ketika, salah seorang cucunya ada hajatan, yakni menggelar acara pernikahan. Beberapa hari sebelum acara pernikahan berlangsung, datang kiriman barang-barang yang dibutuhkan untuk acara pernikahan sebanyak satu mobil.

“Untuk siapa kiriman barang-barang ini?” tanya salah seorang yang menerima kiriman.

“Untuk yang akan melangsungkan pernikahan,” ucap sang sopir yang membawa barang-barang tersebut.

“Kiriman ini dari siapa?”

“Dari seseorang yang sudah tua.”

Baca juga: Mengenang Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutbi (3), Qutbul Gaus di Zamannya

Baca juga: Mengenang Syekh Umar Hamdan (2), Guru di Dua Kota Suci

Cucu Kiai Abu Naim pun maklum. Hal itu sudah sering sekali keluarganya alami. Mereka menerima kiriman barang kebutuhan dari Kiai Abu Naim sewaktu ada acara-acara tertentu. Walaupun tidak diketahui dari mana asalnya, sang Kiai ternyata tetap memperhatikan keperluan keluarganya.

Sumber: Karomah Para Kiai, Samsul Munir Amin

Editor: Muhammad Bulkini

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *