MUHIBBIN.NET

Mengabarkan dengan Cinta

Jhonny Iskandar
KOPI (KOLOM TEPI)

Memahami Sikap Abah Guru Sekumpul pada WTS dari Senandung Jhonny Iskandar

oleh: Muhammad Bulkini

Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang akrab disapa Abah Guru Sekumpul pernah menjamu Wanita Tuna Susila (WTS) di kediamannya. Tak tanggung-tanggung, mereka datang dengan satu pasukan, semobil penuh.

Abah Guru pun menyambut sebaik mungkin para tamunya, menyajikan jamuan, bertanya kabar dan tujuan hingga mendoakan mereka. Tak ada bedanya dengan tamu lainnya.

Melihat sikap ulama karismatik itu tanpa beban menerima tamu, seorang yang ada di sekitarnya berupaya memberitahu.

“Mereka itu WTS,” ujar orang itu setelah para WTS itu pulang.

“Aku tahu,” kata Abah Guru.

“Mengapa Pian menjamu mereka?”

Abah Guru tersenyum dan menjawab santai, “Mereka tidak melakukannya di hadapanku.”

***
Kebingungan seseorang di dalam cerita itu mungkin juga dialami banyak orang. Tapi tenang, Jhonny Iskandar punya petuah yang kira-kira bisa menjelaskan mengapa ulama besar asal Kalsel itu bisa menyambut tamu dari kalangan wanita penghibur dengan santai.

“Atas perasaan
Yang tumbuh di hati
Aku tak mampu
Untuk mendustai
Walau ku tahu
Kau wanita penghibur,” Om Jhonny bersenandung.

Abah Guru tahu siapa mereka. Tapi, bukan tugas manusia (terlebih ulama) untuk mencela individunya. Tugas ulama -bahkan kita semua- untuk mencarikan jalan keluar bagi masalah mereka. Di antaranya sudah dilakukan Abah Guru; mendoakan dan memperlakukan mereka dengan baik.

Simak senandung Om Jhonny berikutnya;

“Bagiku dirimu
Bagai mutiara
Walaupun berkubang
Di dalam lumpur yang hina.”

Semua orang memiliki sisi baik. Layaknya mutiara di lumpur, kata Om Jhonny. Jika dia diambil dan dibersihkan atau dengan kata lain dia bertobat, bersihlah dirinya.

Hebat juga Santri Pesantren Kiai Hasan Gonggong ini, bisa memandang ahli maksiat dengan tatapan seperti itu. Apa rahasianya?

Om Jhonny kemudian membocorkan di lirik penutupnya:

“Aku tak peduli,
Walau apa yang terjadi.
Hitam duniamu,
Putihnya cintaku.”

Walhasil, Abah Guru memandang mereka dengan tatapan cinta, sehingga tetap bisa bersikap lembut dengan orang-orang yang berbuat dosa.

Jalan Abah Guru adalah jalan cinta, dan begitulah adanya.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *