MUHIBBIN.NET

Mengabarkan dengan Cinta

Mengenang H Usman Musayyab, Beruntung Sempat Duduk Bersama
KOPI (KOLOM TEPI)

Mengenang H Usman Musayyab, Beruntung Sempat Duduk Bersama

Oleh: Ibnu Syaifuddin

Siang itu, sehabis waktu dzuhur seperti biasa makan di rumah makan padang –mungkin lebih tepatnya warung makan padang- di depan Komplek Pondok Indah Teluk Dalam, Banjarmasin. Biasanya pula, Uda –panggilan akrab pemilik rumah makan ini- sudah hafal dengan menu makan yang kupesan. Jadi, tinggal melenggang saja ke kursi yang biasa kududuki.

Sesampainya di kursi, aku mengecek pesan di ponsel. Baca-baca sekilas, dan menutupnya.

“Boleh gabung,” kata seorang tua berbadan gemuk, uban telah meliputi alisnya.

“Silakan,” ucapku tanpa melihat dengan jelas orang yang ada di hadapanku.

Tak lama berselang, pelayan warung itu datang menanyakan minum. Aku memesan teh hangat, dan orangtua itu memesan es teh.

“Tidak pulang ke rumah?” ujar lelaki tua itu membuka pembicaraan.

Aku hanya menggeleng, sembari tersenyum.

“Kerja di mana?”

“Di koran,” ucapku sambil menengok ke arah ponsel dengan maksud tak ingin melanjutkan perbincangan, apalagi soal pekerjaan. Saat menoleh ke ponsel itu, ada geretek hati yang menegur, “Hai teman dudukmu biasanya lebih mulia darimu”. Tersadar dengan isyarat itu, aku langsung beristigfar kemudian mengajak ngobrol orangtua yang sedang melahap makanan.

“Pian, orang Teluk Dalam asli?”

“Ayahku di Sungai Jingah. Rumahku dulu bertetangga dengan Djok Mentaya. (Gusti) Rusdi itu kawanku.”

Lelaki tua itu kemudian mengabarkan kalau dirinya dilahirkan di tahun 1940 dan di masa muda asyik bermain tenis bersama dengan pimpinan koran di Banjarmasin itu.

“Kamu sudah lama di Teluk Dalam (Banjarmasin)?”

“Baru, sekitar 6 tahun. Aslinya Martapura, Astambul.”

“Martapura? Anang Jazuli tahu (KH Anang Djazoeli)? Wildan (KH Wildan Salman)? Itu keponakanku.”

Baru saya sadar, orang di depanku ini keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary, yang mungkin keturunan lebih dekat.

“Syaifuddin (KH Syaifuddin Zuhri atau Guru Banjar Indah) keponakanku. Rancak (sering) ke rumah,”

Mendengar penuturan terakhir, selera makanku terganggu. Kenikmatan rasanya berpindah, lebih enak berbicara dengan lelaki tua itu ketimbang menghabiskan makan hidangan yang tersisa.

Karena saking seringnya aku bicara, lelaki tua itu lebih cepat menghabiskan makannya.

“Siapa nama pian?”

“Utsman Musayyab. Haji Thoha, yang makamnya di sebelah Surgi Mufti itu ayahku.”

 

Mengenang H Usman Musayyab, Beruntung Sempat Duduk Bersama
Mengenang H Usman Musayyab, Beruntung Sempat Duduk Bersama

Aku ternganga, kemudian tertawa. Lelaki tua itu pun tertawa, “Ulun sering menulis nama pian. Tapi tidak tahu orangnya.”

Beliau pun kemudian membicarakan soal haul Surgi Mufti yang belum lama digelar. Puluhan ribu jamaah datang mengambil berkah Mufti di zaman penjajahan Belanda itu. Dalam acara seperti itu, biasanya beliau duduk di dalam rumah, belakang Kubah.

“Aku duluan. Kapan-kapan ke rumah,” ucapnya dengan senyum lebar.

“InsyaAllah,” ucapku, kembali meneruskan makan.

Di parkiran, lelaki tua itu langsung disambut 3 orang yang mendekat ke arah motornya. Asyik sekali sepertinya mereka berbincang. Hingga makanku tandas. Aku pun membayar dengan bergegas.

“Sudah dibayar orangtua tadi,” kata Uda.

Aku menatap sosok lelaki yang kemudian menyeberang jalan dengan motornya. Sangat jelas, kata hatiku benar. Lelaki tua itu orang mulia, dan aku beruntung sempat duduk bersama.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *