MUHIBBIN.NET

Mengabarkan dengan Cinta

KABAR

Warga Muslim Indonesia Mesti Tahu, Sikap di Tanah Air Bisa Menusuk Saudaramu di Luar Negeri

Diskusi memperingati lahirnya NU ke 94 tahun.

muhibbin.online, BANJARMASIN – Indonesia adalah negeri yang mayoritas dihuni warga muslim. Perilaku umat Islam di negeri ini tentu menjadi sorotan warga dunia, sehingga berpengaruh dengan image Islam dan perilaku mereka terhadap warga Islam di negerinya.
Wakil Ketua PWNU Kalsel, Abrani Sulaiman bercerita ketika kuliah di Australia. Saat itu, terjadi “kasus bom bali” dan warga Australia paling banyak menjadi korban. Orang-orang Indonesia di sana mendapatkan tekanan. Bahkan orang-orang Indonesia di sana bersepakat untuk tidak memakai bahasa Indonesia ketika bertemu, dikarenakan alasan keamanan.
“Ternyata apa yang dilakukan oleh segelintir orang di Indonesia berdampak terhadap orang-orang Indonesia yang menjadi minoritas di luar negeri. Sehingga, jangan sampai mentang-mentang mayoritas berbuat sekehendak hati,” ujarnya dalam Diskusi yang digelar di Gedung PCNU Kabupaten Banjar, Jumat (31/1) malam.
“Ingat saudara-saudara kita di yang luar negeri. Mereka akan merasakan dampak buruk dari yang kita lakukan di sini terhadap minoritas,” tegas Doktor Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin itu. 
Menariknya, gereja pada saat itu justru membuka pintu selebar-lebarnya untuk melindungi warga muslim di Australia yang mendapat tekanan dari warga Australia. Apa tidak malu kita, padahal Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, Islamlah yang mestinya merangkul dan melindungi orang lain.

Dampak buruk dari perilaku sebagian muslim yang mencoreng Islam juga dirasakan Azzam Masduki, Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda. Di sana, mahasiswa muslim dikenal merepotkan, karena meminta mushalla pada kampus. Tentu saja permintaan itu tidak diberikan. 

“Mahasiswa non muslim protes; atas dasar apa muslim minta diistimewakan dikasih tempat ibadah. Padahal umat agama lain tidak minta tempat ibadah di kampus,” ujar Azzam.
“Jadi minoritas itu tidak enak. Jangan mentang-mentang kita mayoritas (di Indonesia) sewenang-wenang terhadap minoritas,” jelas mahasiswa S3 Groningen University ini.
Azzam mengaku berupaya untuk mengurangi image buruk Islam, meski hanya dengan perilaku kecil dalam keseharian. 
“Eropa menganut kamar mandi kering. Orang Islam dianggap jorok, karena kalau wudhu bikin basah lantai. Sehingga saya bila selesai wudhu mesti mengeringkan lantai dengan tisu agar tidak memperburuk citra umat Islam,” ungkapnya.
Diskusi memperingati 94 tahun berdirinya NU oleh aktivis muda nahdliyyin yang tergabung dalam AMANNA Community (Aktivis Muda Nahdliyyin Banua) itu menarik banyak peserta. Perbincangan berlangsung hingga 3 jam lamanya.
Diskusi yang mengangkat tema “NU Banua, NU Jawa, NU Eropa” itu dipandu Bendahara PCNU Kabupaten Banjar yang juga owner RF Onlineshop, Ustadz Muhammad HR, dengan  menghadirkan Tiga aktivis muda NU; Ustadz Khairullah Zain, Gusti Marhusin, dan Azzam Masduki Anwar.
Turut hadir, Mustasyar PCNU Kabupaten Banjar, Ustadz Rusniansyah Marlim dan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Banjar, Ustadz Nuryadi Baseri serta aktivis muda NU dari Kabupaten Banjar, kota Banjarbaru dan Banjarmasin.
Diskusi digelar santai dengan memakai halaman Gedung PCNU Kabupaten Banjar sebagai tempat.
Sekretaris PCNU, Ustadz Muhammad Zaini Makky menutup kegiatan itu dengan doa.
Editor: Ibnu Syaifuddin

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *